Posted by: amieheidi on: 3 February, 2012
Assalamualaikum
Alhamdulillah thumma alhamdulillah.
Time does fly so fast, ain’t it? I felt like it was just yesterday that I registered for MTeach, and felt that it was just yesterday that I paid $3000+ to enter MTeach.
I’ve let go of the job offer, after a lot of istikharah and a lot of discussions. If I enter the workforce, I will get money (and experience), but with MTeach, I will get knowledge (and experience).
I’m surrounded with a lot of work, left, right and centre, but insyaAllah, I can manage. Allah does not burden someone more than what that person can bear (2:286), and His help is always near. He gave me very helpful lecturers, He gave me very helpful colleagues, He even gave me a very helpful mentor at the school, with a very helpful staff of teachers and school principal! Alhamdulillah, my syukr is for You and only You, ya Allah!
One thing that I am trying my best to avoid is procrastination! It is bad to procrastinate, and I am trying my best to not procrastinate, up to a point that my PL said, “you are so proactive’, of which I replied, I just don’t want to fall into the trap of procrastination. Hopefully, Allah can help me with my fight against procrastination.
Posted by: amieheidi on: 2 December, 2011
Assalamualaikum
Alhamdulillah, Allah will give His help if we want to do good things.
So happy!
Posted by: amieheidi on: 26 November, 2011
Assalamualaikum
The other day, I was able to go to my former students’ convocation ceremony, or as we call it, ‘Majlis Ihtifal’.
Alhamdulillah, even though I was late, I was able to meet up with those who mattered, the students.
Even though I only taught them for a year, I will never forget the lessons that they managed to teach me, even though they are less than 12 years old!
Hati kanak – kanak ani bersih. It is so easy for them to faham whatever that we wanna teach them, when it comes to our deen.
While teaching them, I experienced the toughest test that Allah has given me. Students not understanding what I taught, students who rebelled, when I touched his cheek (he was eight, and he accused me of being flirty), students who were such a know – it – all, and yet did not pass his paper, you name it, I get it.
Not only that, I also learnt how to manage office politics over there, and learn to keep arguments in the meeting room, and leave it there, period. Although I have worked in an office before, it was before my ‘hijrah’ to become a better person, and it was fine, no tests, nothing.
It’s so true that if Allah loves you, He will test you. Before my ‘hijrah’, I was in a ‘blissful’ state. No asthma, no thrombocytosis, no obesity, no failing exams. At the same time, though, my ‘blissful’ state is a shallow and temporary state. After a concert or a date or a mixed party, that ‘blissful’ state disappeared, and what was left was a hollow, empty feeling. Whenever problems arose, I would feel down, I would cry and I would be so upset with myself. Not only that, the problems were usually inexplicably linked with…. a boy.
After ‘hijrah’, my asthma relapsed, and with it comes reactive thrombocytosis, and with it comes obesity, and my very first tough test after donning the tudung and doing the solat was that I failed a paper and it made me have to delay my undergraduate convo by a year. With solat and tudung, there are no more concerts, no more dates, no more mixed parties, but my blissful state is a permanent one. No matter what problems that came my way, no matter how tough the test is, I am able to put a smile on my face.
A sincere one. Problems that was inexplicably linked with a boy never happen, because now I know that an unmarried boy and an unmarried girl cannot mix freely, and I no longer do that.
Even though my literal hijrah was in Ramadhan, but a new hijri year awaits. InsyaAllah, with this new hijri year, let us all become an even better person. Nobody is perfect, and nobody can reach perfection, but the efforts that you do to reach it makes it all worth it,
Posted by: amieheidi on: 21 November, 2011
Assalamualaikum
Ibu menelefonku tadi.
“Kaka, financial help application yang mummy apply for kaka punya Masters…. kana reject,” katanya dengan nada yang begitu sayu.
Ibuku terus merungut, tapi ku kata padanya, it’s ok. It doesn’t really matter much.
Ani ujian dari Allah so that aku tak manja. Allah nak aku settlekan salah satu muwasofat individu muslim, iaitu mampu berdikari.
Who knows, Allah will give me something better than a $300 allowance every month while doing my Masters?
Kan, bila Allah tutup satu pintu, Dia akan buka pintu – pintu yang lain?
Kan, Allah je yang pegang rezeki setiap hambaNya? And nobody can tarik rezeki tu kecuali Dia sendiri?
My financial burden ani is nothing, all I need is money to pay for whatever I need while on campus (food, car fuel, bills, etc). InsyaAllah, I’ll be able to pay for all that, with Allah’s help.
Nobody can give help other than Allah.
Allah uji pasal Allah sayang. That’s the only reason why.
Sungguh, Kami akan mengujikamu dengan sesuatu daripada ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan
harta, dan jiwa, dan buah-buahan; dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (2:155)
This is considered kekurangan harta, but tu Allah janji udah. Berilah berita gembira kepada orang – orang yang sabar. So, sabar saja, insyaAllah ada berita gembira for anyone yang sabar.
Quoting my best friend, who is nun jauh disana, if she heard me right now, she will say, ‘Best nyer… dapat tarbiyyah straight dari Allah!’
Yes, it is best. It is.
Posted by: amieheidi on: 15 November, 2011
Assalamualaikum
Sangat susah sebenarnya kan… nak jaga hati?
Tersangat susah sebenarnya kan… nak jaga ikhtilat?
La yukallifullahu nafsan illa ‘usaha – Allah tak membebankan seseorang lebih dari apa yang ia mampu (2:286)
Adakah mereka dibiarkan saja mengatakan ‘kami telah beriman’, sedangkan mereka belum diuji? (Al-Ankabut:2)
Ya Allah, tolong aku!
Aku tahu ujian ini Kau berikan padaku kerana Kau tahu aku mampu, ya rabb! Aku mengetahui Kau menyayangiku, berdasarkan hadis Rasulullah SAW.
Dan sesungguhnya jika Allah Ta’ala mencintai suatu kaum, maka akan diujinya. Jika dia ridho, maka Allah Ta’ala akan memberikan keridhaan-Nya. Tetapi apabila dia murka, maka Allah Ta’ala juga akan memberikan kemurkaan-Nya (At Tirmidzi).
Please Allah, please jaga my hati, kerana Engkau lah yang mebolak-balikkan hati.
To all sisters out there, yang sedang diuji hatinya, you are not alone!
Hati kita ni, sisters, sangat mudah untuk cair, memang dah fitrah kita sebagai perempuan, so kita kena selalu minta supaya Allah tolong kita untuk jaga hati kita.
Posted by: amieheidi on: 11 November, 2011
Assalamualaikum
Beberapa hari yang lalu, ibuku mengeluh meluahkan perasaannya dengan ‘office politics’ yang berlaku di tempat kerjanya. Memang dari semasa dia mula bekerja disana sudah dia mengeluh sebenarnya, tetapi sudah dekat dua tahun aku tidak mendengar keluhannya lagi, sejak-sejak aku mula menanam semangat yang itulah ujian yang Allah mahu beri padanya.
La yukallifullahu nafsan ila us’aha – Allah tidak akan membebankan seseorang lebih dari apa yang ia mampu (2:286)
Apakah mereka dibiarkan mengatakan ‘Kami telah beriman,’, sedangkan mereka tidak diuji (Al-Ankabut:2)
Kadang-kadang, aku pula yang berasa sedih bila mendengar kisahnya, dimana staff lelaki mereka secara tak sengaja terbuat dosa akibat staff perempuan yang tidak menutup aurat dengan sempurna walau setelah ditegur.
Aku pula yang berasa sedih, apabila yang ditegur itu berkata, ‘Alah, p*y*d*r* saya b*s*r, takkan saya tak nak lihatkan kat orang lain?’
Astaghfirullah, makcik, mana sifat malu makcik?
Ada pula yang tidak melakukan tugas mereka yang sudah diarahkan oleh ketua dan memang pun itu tugasnya, malah melenting pula apabila disuruh. Sedangkan Allah sudah berfirman, ‘Taatlah kamu pada Allah, taatlah kamu pada Rasul dan ulil amri’ (An-Nisa: 59).
Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah.
Honestly, aku rasa bersyukur kerana Allah belum menempatkan aku dimedan itu, kerana Dia tahu aku belum ready menghadapinya, kerana sangat berat tanggungjawab untuk menyokong syariatnya itu ditempat kerja. Dia tahu kesediaanku semasa ini terbatas dimedan student saja, sebab itu Dia beri aku peluang untuk menyambung semula pengajianku. Unlike aku, ibuku diberi tanggungjawab itu, mula-mula katanya, memang terasa asing dan memang sampai sekarang terasa asing apabila dia seorang saja yang memakai tudung bidang besar ditempat kerjanya, tetapi demi memikul tanggungjawab, dibuat jua.
Pernah sekali dia rasa ‘regret’ semasa menegur seorang staff yang memakai pakaian menjolok mata, dan selepas itu staff itu marah padanya dan tidak menegurkannya selama beberapa hari. Aku memujuknya dengan berkata ‘Rasulullah bersabda, mummy, apabila kamu melihat kemungkaran, hendaklah kamu mencegahnya dengan tanganmu (kuasa), jika tidak mampu, cegahlah dengan lisanmu, dan jika tidak mampu, cegahlah dengan hatimu. Dan itulah selemah-lemah iman (riwayat Muslim). Mummy menegur dengan lisan itu menunjukkan iman mummy masa tu sangat kuat,’
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, setengahnya menjadi penolong bagi setengahnya yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan dan melarang daripada berbuat kejahatan dan mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat, serta taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah: 71)
Kamu adalah umat yang terbaik dikeluarkan bagi manusia, dengan menyuruh yang baik, dan melarang yang mungkar, dan kamu mempercayai Allah. Sekiranya ahli Kitab percaya, tentulah itu yang lebih baik bagi mereka; antara mereka orang-orang mukmin, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq. (3:110)
Jelas, menegakkan amar maaruf nahi munkar itu adalah perkara yang Allah syariatkan. Ianya bukanlah senang, tetapi ia boleh dilakukan. Kalau tak, takkanlah Allah syariatkan benda tu pada hambaNya, kerana Allah lebih tahu kemampuan hambaNya itu lebih dari hambaNya sendiri. Malah, Allah mengatakan yang kita, umat akhir zaman, adalah umat yang terbaik, dengan syarat kita tegakkan ‘amar maaruf nahi munkar. Ianya tak cukup dengan berbuat maaruf je, yang mungkar tak dicegah. Ianya tak cukup dengan mencegah mungkar je, tapi berbuat maaruf tak dibuat.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, bahawa hati-hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cintaMu, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatanya, Ya Allah, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, ya Allah. Terangilah dengan cahayamu, yang tiada pernah padam. Ya rabbi, bimbinglah kami.
Lapangkanlah dada kami dengan kurnia iman, dan indahnya tawakkal padamu, hidupkan dengan ma’rifatmu, matikanlah kami dijalanMu, Engkaulah saja yang mampu melindung dan membela kami.
Ya Allah, kuatkanlah tawakkal kami padaMu, tolonglah kami dijalanMu. Amin. Amin. Amin.
Posted by: amieheidi on: 6 November, 2011
Tapi jalan kebenaran….
Tak akan selamanya sunyi…
Ada ujian yang datang melanda…
Ada perangkap menunggu mangsa…
So true, bila Allah mencintai sesuatu kaum, pasti akan diujinya.
Posted by: amieheidi on: 5 November, 2011
Assalamualaikum warahmatullah
Honestly, this empty screen has been prompting me to blog for quite a few days already, but I can’t seem to find what to write, but alhamdulillah, today, Allah gave me an inspiration to write something, after hearing the happy news about one of my sisters.
A sister of mine will be someone else’s wife in a matter of days, and I only found out about it today! I’m very happy for her, excited even, hopefully she will become a better muslimah with this marriage and keep on walking the path that Allah is pleased with. Barakallahu feek sister, you know who you are,
.
Marriage is a form of rezeki, as I have mentioned quite a number of times in this blog before, and I firmly believe in it, it is one of the qada’ and qadar of Allah (the sixth point of rukun iman – percaya pada qada’ dan qadar).
It will come to you when you are absolutely ready, because in itself, it is a test. A test whether you are marrying for the sake of Allah, or not, a test to control yourself and your qalbu to not think about the guy, because he’s not yet halal for you. A test, whether you are already 100% tawakkal towards Allah.
It is like entering a new world, literally. From singlehood to married life. From depending on your dad to depending on your husband. From asking your dad if it is okay to go out to asking your husband if it is okay to go out. You really have to be absolutely sure that you are ready before you go to the next step, because it might lead to divorce and separation. Your intention must be correct from the start, that you are getting married so that Allah is pleased with you.
If you marry because of nafs, one day, you won’t have nafs for your future spouse. If you marry because your future spouse is handsome/beautiful, that quality will deteriorate with time. If you marry because he/she is rich, one day the wealth will diminish. However, if you marry because you want Allah to love you, then Allah’s love will never diminish as He alone loves you more than anyone else in this world loves you.
Perhaps this is why we always heard stories about divorcing couples, couples who had extra-marital affair and so on, because the intention for getting married was not right at the first place, and that is why things like this happen.
I’m not married yet, and I don’t know when I will marry someone one day, but I know Allah’s promise is true. He knows what is best for me and He knows who my future spouse is. He mentioned in the Quran already, zawjain ithnain, everything has a partner, and insyaAllah one day, I will have a partner too.
Posted by: amieheidi on: 16 October, 2011
Tulisan ini tertulis setelah mendengar berita tentang seorang adik yang dulunya menempuh jalan menuju keredhaanNya bersama saya.
Wahai adik,
Aku sudah lama tidak bertemu denganmu
Wahai adik,
Rinduku kepadamu membuatku menghantar sms kepada mu atau menelefonmu
Wahai adik,
Kenapa sms-ku tidak kau balas dan panggilan telefonku tidak kau angkat?
Wahai adik,
Aku mendengar berita tentangmu dari adik yang lain,
Katanya kau sudah tidak seperti dulu
Wahai adik,
Apakah ini berita yang benar?
Tidak mungkin adik itu berdusta, sebab nabi larang kita dari menyebarkan berita palsu
Wahai adik,
Jika betul kau sudah tidak seperti dulu…
Masihkah kau ingat,
Hari pertama kita bertemu…
Masihkan kau ingat,
Kita berjanji sama – sama untuk menempuh jalan menuju keredhaanNya ini…
Wahai adik
Mengapa kau tinggalkan jalan ini?
Wahai adik
Maafkan aku jika kau meninggalkan jalan ini keranaku
Wahai adik
Maafkan aku jika aku tersilap pandang dan membuatkan engkau tercicir
Wahai adik
Aku tidak dapat memaksamu untuk kembali semula seperti dulu
Kerana hatimu, bukanlah berada ditanganku.
Wahai adik
Aku tidak mampu menegurmu,
bagaimana aku hendak menegurmu, jika sms ku yang bertanya khabar pun tidak dijawab olehmu
Wahai adik
Aku cuma mampu menangis didepan rabb-ku
Aku cuma dapat meminta ampunan bagi diriku dan dirimu
Aku cuma dapat meminta agar Allah dapat mengubah hatimu
Untuk kembali seperti dulu.
Hatimu ditanganNya, bukan ditanganku.
Aku memnta maaf sekali lagi
Jika ini semua kerana salahku
Seperti engkau, aku juga cuma manusia yang diciptakanNya, mempunyai sifat lalai dan pelupa
Sekali lagi ku mohon kemaafan,
Sebelum aku disalut dengan kain kafan
Sebelum aku cuma tinggal jasad dan sedang menunggu untuk masuk ke liang lahad.
Salam sayang,
Kakakmu yang akan selalu mencintaimu keranaNya.
Posted by: amieheidi on: 15 October, 2011
Assalamualaikum
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
I seem to can’t stop talking about rezeki, how Allah has been bountiful in giving His blessings to me and to the rest of the community in the world.
Truly, I’ve been bombarded with happy news that it is so blessed to be one of His servants.
First, is my own happy news which I still wanna keep to myself a bit longer, which is not kerja or kahwin (work or wed) by the way. Wait for January for that, even though most of the sisters know about the news already. It is something that is much better than kerja, that much, I can tell only that.
Anyway, our rezeki is something that Allah has pre-ordained, so please do not be sad if you don’t get what you want. Instead, be thankful of things that you get, and you didn’t even ask for it, like, the air you breathe, and you being alive…